Saturday, 2 June 2012

Paku Marah



Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan kepada anak itu untuk memakukan sebatang paku di pagar setiap kali dia marah.

Hari pertama anak itu telah memakukan banyak paku ke pagar setiap kali dia marah. Lalu semakin lama jumlah paku itu semakin berkurang. Dia mendapati bahawa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.

Akhirnya, tibalah hari dimana anak tersebut merasa boleh sama sekali mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Lalu ia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah.

Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahawa semua paku telah tercabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pagar dan berkata:

“Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan sama lagi seperti sebelumnya. Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan, kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini di hati orang lain.”

Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu. Tetapi tidak peduli berapa kali kamu meminta maaf, luka itu tetap ada dan luka kerana kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fizikal….bahkan lebih parah

No comments:

Post a Comment