Nota :
Cerpen ini bukan saya tulis.
Saya cuma tulis nota ini.
Diulang..saya cuma tulis nota ini.
Pesan saya. Ambil yang baik.
Aku masih beridiri di bibir sungai nil.mengalir lembut,tenang dan indah.perahu-perahu kecil berlayar diatasnya.temaram lampu sepanjang jalan memberikan warna berbeda pada setiap tepian sungai. Indah. Sangat indah.perpaduan gemerlap malam dengan sungai terpanjang didunia ini.mengiaskan pada makna cinta yang terbalut pada satu kejadian. Nil dan gemerlap malam. Saat yang indah.
Entah sudah berapa lama aku terpatung disini.menyaksikan indahnya malam minggu ini. Hati bahagia,semua serasa ku miliki. Aku merasa dunia adalah miliku. Semua yang kubutuhkan telah ada disisiku.ya dengan cinta itulah aku merasa hidup.
Puluhan gadis Cleopatra berlalu-lalang dihadapanku.seolah menawarkan pesona. Namun bagiku,aku punya yang lebih dari Cleopatra itu.
“ lausamaht,,,, enta aiz dza…” Amira menyodorkan Es krim pedle pop ke arahku. Aku tersenyum dan menyambarnya.ia berbalik badan sewot.seperti manja memancing reaksiku.untuk kesekian kali aku hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya.
Ya. Dia adalah Amira Raquel.bisa dibilang gadis yang mempunyai hubungan dekat denganku. Kami adalah mahasiswa satu kampus di british university of Egypt. Kami mengambil jurusan yang sama. Englis education.entah bagaimana kronologi aku bisa sedekat ini denganya.yang pasti kamu awalnya hanya sebatas sahabat yang saling berbagi hingga akhirnya kami memiliki ikatan emosional. Seperti saling memiliki.
Tak kalah seperti gadis mesir lainya. Dia adalah salah satu Cleopatra dari ribuan Cleopatra yang ada di negri ini. Aku-pun bersyukur bisa mengenalnya.dan aku ada rencana ingin sekali menikahinya,dan mendekatinya dahulu dengan bisa berjalan dan bermain bersama.namun lagi-lagi kami harus terbentur pertauran negri ini. Yang melarang akan berjalan selain muhrimnya.bukan peraturan Negara. Melainkan aib yang menjadi budaya.tidak banyak hal yang aku tahu dari dia. Hanya sebatas dia anak orang kaya dan berdedikasi tinggi.berjilbab,dan dimataku ia sholihah dan sempurna. Hubungan yang baru berjalan lima bulan ini begitu aku nikmati. Aku rasanya tak bisa jauh-jauh dari dirinya. Rasa khawatir selalu tumbuh begitu saja saat tiada kabar beberapa saat. ya aku sangat mencintainya. Dan tak ingin aku melukai perasaanya walau secuil.
“ Kapan mau melamarku..???!.”. Ia angkat bicara . aku bergetar hebat saat kata itu tiba-tiba mengalir dari bibirnya.mengalir dan terlempar kencang hingga membentur hatiku.aku belum bisa membalasnya.hanya diam.belum percaya. Harusnya aku yang memulai pembicaraan seperti itu. Bukan dia.
“Kenapa diam…?? Sampai kapan mau terus begini baby.. tanpa satatus..!!.” ia kembali tersipu malu setelah mengucapkan kalimat itu. Sedangkan aku bertambah kelu. Aku belum percaya akan memiliki serta menikahi gadis mesir ini. Apa nggak salah apa yang ia ucapkan barusan?? Apa aku mimpi??.” Aku mencoba meyakinkan diri dengan mencubit pipiku sendiri. Uh….ternyata aku tidak sedang bermimpi. Ini sungguhan..” aku menggumam setengah belum percaya.
“Kamu serius.. sudah siap dengan semua ini??” aku bersikap dewasa. Padahal hatiku masih ketar-ketir.ia mangangguk lirih.setengah malu. Lagi-lagi senyum manisnya dilemparkan kearahku.membuatku tak ingin berpaling kearah manapun.
“Minggu depan aku akan datang kepada orangtuamu,untuk menjelaskan semuanya.Saya mau kamu pikirkan hal ini dengan matang..”
“Tidak… aku sudah memikikanya jauh-jauh hari,bagiku kamu adalah pria yang bertanggung jawab dan baik. Aku sudah lama menginginkanmu Ikhwan…”. Satu detik setelah kata itu meluncur serasa aku berada diudara.terbang melayang-layang diatas langit cairo.terbuai oleh sanjungan yang semu.terbang dan tak ingin rasanya aku cepat-cepat turun.
“Baiklah.. aku akan segera menemui orangtuamu senin depan..”. aku menarik nafas berat. Amira kemali menawarkan senyumnya.
Seminggu kemudian
Aku sudah dan sofyan,teman yang aku ajak sebagai saksi lamaranku sudah berdiri di depan Masjid Utsman bin Affan. Ku menunggu kedatangan Amira untuk menjemputku. Aku belum tahu dimana ia tinggal. Karna merupakan aib besar bagi budaya mesir bermain di rumah yang bukan mahrom. Apalagi berlawanan jenis. Haram ‘alaik…!!” begitu kata orang mesir.
Beberapa menit kemudian ia sudah muncul dengan pakaian hijau yang membalut tubuhnya.sangat cantik. Bagiku berpenampilan sederhana saja ia sudah sempurna. Apalagi dengan berdandan. Excellent. Ia mengajaku berjalan beberapa ratus meter kebelakan masjid. Hingga menemui build 103 , kamipun menaiki tangga hingga tingkat empat.
“ TOK…TOK..TOK..!!” Amira mengeoik pintu. WUSH.. tiba-tiba hawa dingin mengalir keseluruh aliran darahku.membuat semuanya beku. Otak,suasana hinga bibir ini. Saat aku menatap Ayah dan Ibu amira sudah menunggu kedatangan kami.persiapan dan jamuan untuk menerima kami sudah sangat siap. Tanpa cacat bagiku. Dingin kini benar-benar menguasi seusana. Membuatku lupa dan down dengan sesuatu yang akan aku hadapi. Ya allah… kuatkan hamba..”. aku berdoa dalm batin.
Amira memohon diri untuk kekamarnya bebarapa saat. Aku hanya tersenyum getir. Masih bingung.dengan clotehan bahasa arab Ayah dan Ibu Amira mulai berbasa-basi sedikit dengan aku dan sofyan. Aku berusaha sebisa mungkin membalikan keadaan sebelum acara inti itu akan dimulai.
Tiba-tiba. Amira datang dari arah kamarnya dengan penampilan yang berbeda. Sangat cantik.rambut yang tersisir dengan rapi,gaun hijau yang anggun serta tata rias yang semakin membuat penampilanya semampai. Senyum yang mereka begitu indah. Gigi-gigi yang berjajar rapih seperti mutiara yang di timpah sinar purnama. Aku belum bisa mengalihkan pemandangan itu. Inilah bidadari yang turun dari syurga. Inilah Aisya istri rosulullah yang cantik. Inilah bunga syurga yang Allah ciptakan untuku,Inilah puisi yang indah untuk hidupku., Inilah………..!!.”. ARGH…!! Tiba-tiba saja sofyan mencubit pahaku. Aku merintih dan menatap tajam kearahnya. Aku belum tahu maksudnya ia mencubitku. Kemudian aku mengikuti arah pandangya yang menuju Amira.
“ASTAGFURULLLAH….!!”. aku menggumam hebat. Baru aku sadari ternyata sosok Amira dihadapanku tak lagi mengenakan jilbab.Dia benar-benar telah melepasnya dan berganti pakaian ketat. Aku tak menyadarinya dari awal.terlalu terlena dengan kecantikanya , sehinga membutakan semuanya.Badai tiba-tiba saja muncul dan menghantam kearahku. membuatku merasa sakit. Dan badai itu serasa semakin kencang dan besar dan aku berharap segera saja menghancurkanku dan menyeret keluar dari ruanagn ini. Ditambah petir yang serasa tiba-tiba saja menyambar dan memekikan telingaku. Membuat aku shok setelah aku menatap gambar tato salib berukuran kecil pada lenganya yang terbuka. Aku kecewa. Ternyata ia adalah seorang kristiani.
Aku benar-benar tak menyangka dan diluar dugaan. Jilbab yang ia kenakan selama ini hanya sebatas budaya yang berlaku.aku berfikir dia adalah seorang muslimah yang sholihah. Tanpa kusadari ia adalah orang yang berbeda akidah denganku. Aku semakin sakit rasanya jikalau mataku kembali menatapnya yang sedang terduduk disamping kedua orangtuanya. lebih sakit lagi setelah mendengar peryataan kalo ayahnya adalah Pastor Kristen Koptik di Gereja Santo.sungguh siang ini menjadi petaka besar bagi sejarah hidupku. Tanpa pikir panjang, aku dan Sofyan segera meninggalkan rumah itu dengan sedikit tindakan tidak sopan. Aku membatalkan semuanya….
Dengan buru-buru aku dan sofyan menuruni tangga dan meninggalkan rumah yang menjadi tanduk dukaku.langkahku semakin cepat. Secepat aliran darah yang mengalir deras setelah jantung beberapa kali memompa dengan cepat . Dari kejauhan aku melihat Amira menangis sedih melihat aku membatalkan pertunangan. Airmatnya bajir seketika saat aku melangkahkan kaki menjauhi rumahnya. Ada rasa tak rela yang mengantung berat dihatinya. Matanya menyimpan sejuta kekecewaan,namun wajahnya masih menyimpan binar rasa cinta untuku. Air mata yang tiada henti keluar mengisyaratkan masih ada cinta yang belum rela layu dan mati begitu saja. Airmata itu akan menjadi saksi kalau ia mencintaiku.Pengorbanan dan masa-masa indah kami berdua ternyata harus berakhir dengan keputusan yang pahit. Ikhwan…!! Jangan tinggalkan aku..!!” ia beteriak dari kejauhan memohon. Aku diam. Maafkan aku Amira………
########################################
Waktu terus mengalir. Detik mengejar menit. Menit mengejar jam. Dan seterusnya. Membentuk suatu kisah lembaran hidup baru pada sebuah episode kehidupan. Selalu menuangkan kisah-kisah yang berbeda pada setiap peristiwa.
Tak terasa sudah dua tahun aku hidup tanpa cinta. Bukan aku tak mau mencari lagi. Banyak yang mengharap padaku. Tapi entah kenapa. Bayang-bayang Amira selalu bertandang keras di otaku. Setiap kali aku ingin mengusirnya ia bertambah semakin dekat. Kenangan bersamanya tak akan bisa aku lupa. Terlalu indah untuk dilupakan.Meski kami berbeda keyakinan. Namun itu sebatas memori. Tak akan ku korbankan agama demi sebuah cinta pada seorang Cleopatra. Muslim hanya dengan muslim. Non-muslim dengan non-muslim. Begitu firman allah.
Selama waktu dua tahun itu juga. Aku berhenti bersahabat dan bergaul denganya. Karna dengan melihatnya , hanya akan menambah luka baru. Sering ia mengirim surat dan pesan singkat. Namun bagiku itu semua tak akan berguna dan menggoyahkan ke istiqomahan-ku sebagi muslim.Sejak saat itu juga aku sudah jarang melihat pesonanya. Dan aku berganti nomor handphone.Aku selalu berdoa , semoga allah akan memberikan yang lebih baik. Mengganti yang labih baik. Hatiku sudah tertutup rapat untuk perempuan yang bernama” AMIRA RAQUEL”. Selamanya.
Entah sudah berapa lama aku hidup dengan kesepian ini. Aku merasa tak betah dengan segalanya. Aku ingin segera mengakhiri masa mudaku yang sudah menginjak usia dua puluh enam tahun. Hingga terbetik dihatiku ingin menikah kembali. Lupakan Amira,dan muali hidup baru..”. Begitu gumamku.
Siang hari-nya. Aku meniatkan ingin berkunjung ke masjid Al-Azhar. Aku ingin berkonsultasi dengan para syaikh tentang maslah jodohku. Supaya aku tak terjerumus pada maslah yang sama. Aku ingin mereka yang memberikan masukan untuk hidupku kedepannya.
“ Asslamu’alaikum,,”. Aku menjabat tangan syaikh Ahmad Shibbiy. Ia menerimaku dengan ramah. Layaknya gaya hidup para ulama yang zuhud dan berpendidikan. Ia benar-benar menerimaku layaknya tamu allah yang mulia. Menjamu dan ber- mujamalah dengan baik.
“ Ya Syaikh…! Aku ingin segera mengakhiri masa yang penuh fitnah ini dengan jalan yang halal , yaitu dengan pernikahan..!!” adakah masukan untuku..”. aku bertanya datar dengan sopan. Syaikh ahmad tersenyum ringan. Memandangi wajahku dengan ramah. Kemudian manepuk-nepuk bahuku beberapa kali.
” Apa yang kau cari di perniakahan nanti wahai anaku??.”
“ Hanya Ridha Allah ya Syaikh…”
“ Apakah kamu sudah memaantapkan hati,jiwa dan segalnya untuk bisa menjaga dan menafkahi nantinya??”
“ Insyaallah… selama itu Al-Haq, dan itu kewajiban saya,saya akn siap melakukanya sebagai suami”.
Syaikh Ahmad kembali terdiam. Namun wajah teduhnya masih jelas terpancar. Hingga beberapa saat ia masih terlihat berfikir.
“ kamu siap menjual diri dan semuanya untuk agama Allah??. Ia bertanya. Aku masih bingung. Namun tak ada pilihan kecuali aku menjawabnya.
“ Tak ada pilihan ya Syaikh… allah itu tujuan tertinggi setiap manusia yang beriman”.
“ apakah kau mau kutunjukan sembuah kebaikan??”. Ia bertanya. Aku masih bingung juga. Ia membuka dompetnya dan mengeluarkan selembar kertas foto dari dompet. Kemudian ia menyerahkan kepadaku.
“ Nikahilah dia..!!”. aku terjembrarb kaget saat menerima foto itu. Hatiku kembali dingin dan telik.
Bagaimana aku mau menikahi sedangkan dalam foto itu adalah wanita menggunakan cadar dan tertutup wajahnya. Bagaimana aku bisa berta’aruf.
“ Ia adalah Zahra Khoirul Mar’ah.. cucuku..!!. ia menjelaskan.aku masih tertegun dan gemetaran. Aku masih ragu dengan semuanya. Apakah aku akan menikahi seseorang wanita yang belum aku kenal dan belum pernah aku melihatnya. Bagaimana kalau dia tak sesuai dengan seleraku. Bagaimana kalu dia adalah gadis yang akan menjadi bencana bagi rumah tangga. Uh….!!.”. aku menhela nafas panjang. Aku baru teringat akan niatku untuk menikah. Bukan untuk mencari selera. Tapi ibadah. Aku yakin Syaikh Ahmad telah memilihkan hal yang terbaik untuku. Tak pantas dan alangkah hinanya bila aku manolak tawaran yang suci itu. Akhirnya aku menerimanya dengan siap menerima apa adanya. Dan minggu depan aku akan menikah.
1 minggu kemudian
Aku sudah didepan penghulu. Syaikh Ahmad menjadi wali hakim Zahra. Wanita yang akan menjadi istriku. Aku segera menyodorkan mas kawin kehadapanya. Sedangkan Zahra tak berada disampingku melainkan berada dikamarnya. Kehadiran perempuan calon istri pada saat akad bukanlah hal yang wajib dan diharuskan. Melainkan ke afdholan. Yang utama adalah wali hakim yang menerimanya.Beberapa saat kemudian acara dumulai.
“ saya terima nikahnya Zahra binti Huseen Al-Abid dengan mahar uang sebesar tiga ribu pound dan seperangkat alat shalat,dibayar tunai..!!”.
Saat itulah beribu malaikat melejit dari arsy mengaminkan doa-doa. Menebar bunga-bunga rahmat bagi rumah tangga yang baru saja siap untuk berlayar. Terus berterbangan rendah mengepakan sayap memberi keteduhan pada suasana yang penuh dengan keteduhan batin. Udara semakin hangat. Sehangat suasana yang baru saja terjadi. Langit ikut cerah,meramaikan keindahan yang telah dijanjikan.
Akad pernikahan selesai
Aku berjalan lambat mendekati kamar sang istriku. Selambat keraguan yang terus bertandang.entah mengapa hatiku kembali bedesir kencang saat aku akan menemui sang istriku yang tengah menunggu dikamar. Bertambah ragu…
Kubuka kordeng kamar. Perlahan kulihat Zahra,istriku tengah menungguku di kursi ruangan kamar. Cadar yang menutupi wajahnya terus menempel. Menambah segunung penasaran.
“ Zahra……!”. Aku memanggil lirih. Ia tersipu malu nampaknya. Ia tak menoleh sediktpun. Melainkan terus menundukan pandangan. Aku semakin ingin tahu dibalik wajah yang tersebunyi itu.
“ Zahra istriku…!” aku kembali memanggilnya. Namun ia tak menoleh. Tetap tersipu malu. Aku semakin merasa berani untuk mendekatinya. Perlahan aku mendekatinya dan kuelus ubun-ubunya. Kubacakan doa-doa yang diajarkan rosulullah.ia tetap tenang dan lugu. Aku-pun semakin ingin segera menyentuhnya setelah ia halal menjadi bagian dari hidupku.
Denga perlahan juga ia mula beridri mentatapku. Pelan tapi pasti. Kemudian perlahan pula ia mulai membuka cadarnya.
“ Zahra.. tunggu..!! “ aku menyela. Ia diam. Itu adalah tugas suamimu yang membukanya. Barkan aku yang melakukanya…” . ia mengangguk patuh. Perlahan aku mulai mencium aroma wangi dari tubuhnya. Sewangi syurga allah. Aku mulai menyentuh bagian cadarnya. Dan melepaskan jarum yang merekatkanya. Semakin bergetar
Sedetik- Duadetik- Tigadetik
“ ALLAHU AKBAR-ALLAHU AKBAR!!!. Tiba-tiba saja kalimat takbir mengalir begitu saja. Pelangi membentang indah dengan seribu warna yang anggun. Penghuni langit bertahmid bersorak gembira menyaksikan dua hamba yang tengah berdua’an. Airmata tak mampu terbedung mengalir dengan sendirinya saat aku mendapati sosok wajah yang kubuka itu itu adalah Amira.Amira Raquel. Subhanallah…..!!’. kubentangkan sujud syukur saat itu juga tanda syukurku pada sang kholik, yang maha adil, yang yang menguasai cinta dan yang mengetahui rahasia dibalik peristiwa dan hikmah.. wanita dihadapanku-pun menangis haru. Kupeluk dirinya hingga beberapa saat untuk melampiaskan kerinduan yang telah lama terpendam.
“ Kau Amira kan..??!!” aku bertanya setengah belum percaya. Terus menangis.
“ Amira telah lama hilang terkubur masa lalu, dan Zahra Khoirul Mar’ah kini telah mengantikan Amira Raquel yang lama. Setelah aku mendapatkan hidayah untuk kembali kepada fitrah manusia iaitu Islam.. Inilah namaku yang baru… aku adalah seorang muslim sekarang….!!”. Ia menangis haru. Kupeluk erat-erat istriku itu. Kebahagiaan itu kini kembali lagi. setelah sekian alama aku selalu berdoa” tuhan berikan aku cinta”.Setelah lama doa-doaku terus mengiringi semangat ikhtiarku yang tiada henti. Takdir telah membukakan segalanya. Hikmah telah menjawab segalanya. Semesta bertasbih menyempurnakan segalanya.
No comments:
Post a Comment